Penjelasan Sederhana Isim Nakirah & Isim Ma’rifah

penjelasan isim ma'rifah dan isim nakirah

Pada catatan saya sebelumnya, telah dipelajari penggolongan jenis kata dalam bahasa Arab. Di sana telah dikupas tentang ciri-ciri isim adalah dapat menerima ال. Ciri isim berikutnya adalah ia berakhiran tanwin.

Sekarang, kita akan melanjutkan pelajaran selanjutnya namun masih tentang isim (kata benda).

Materi yang akan dibahas pada catatan ini adalah:

  1. Perbandingan kondisi kata benda antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
  2. Dua kondisi kata benda (isim) pada bahasa Arab berdasarkan ta’yin-nya.
  3. Jenis kata yang tergolong isim pada bahasa Arab.
  4. Adanya agreement (persamaan kondisi) antara kata benda dan kata yang menyifatinya.
  5. Contoh kalimat dalam bahasa Arab yang dimulai dengan kata benda .

Sebelum memulai materi hari ini, sebaiknya kita mengulang pelajaran yang telah lalu agar semakin paham dan ingat.

Muraja’ah pelajaran yang terkait dengan isim

Agar mudah memahami pelajaran, saya akan mengaitkan materi hari ini dengan pelajaran sebelumnya.

Lihat pelajaran sebelumnya di sini: 3 Jenis Kata Pembentuk Kalimat Bahasa Arab

 

Point pelajaran sebelumnya adalah:

1. Noun (kata benda), pronoun (kata ganti), adjective (kata sifat), adverb (kata keterangan) termasuk ke dalam kelompok اِسِمٌ (kata benda).

2. Kata-kata yang tergolong kata benda adalah kata yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Kata tersebut berakhiran tanwin.

b. Kata tersebut dapat menerima (berawalan) ال

c. Kata tersebut dapat menerima (didahului) oleh huruf jarr.

Hubungan pelajaran lalu dengan pelajaran hari ini

Jika pelajaran lalu telah paham, maka sobat akan mudah memahami pelajaran hari ini, karena pelajaran sekarang adalah lanjutan dari yang lalu.

Di bawah ini adalah hubungan materi pelajaran:

1. Pada pelajaran lalu disinggung singkat tentang akhiran tanwin dan awalan ال untuk menentukan apakah kata adalah isim atau bukan, pada pelajaran hari ini dua hal tersebut akan dibahas lebih detail.

2. Pada pelajaran lalu telah disebutkan bahwa kata sifat (نَعْتٌ) adalah tergolong اِسْمٌ , pada pelajaran hari ini akan dikupas lebih dalam bahwa antara kata sifat dan kata benda yang disifatinya (مَنْعُوتٌ) harus sama kondisinya (case-nya).

Sekarang kita lanjutkan kepada inti pelajaran hari ini. Dimulai dari perbandingan kondisi isim antara bahasa Inggris dan bahasa Arab untuk mempermudah pemahaman.

Perbandingan noun state (kondisi isim) antara bahasa Arab dan bahasa Inggris

Lihat gambar agar lebih jelas.

penjelasan isim ma'rifah dan isim nakirah

Dari gambar di atas, dapat dipahami bahwa:

1. Untuk isim yang general/umum, jika dalam bahasa Inggris kita menggunakan article “a/an”, maka dalam bahasa Arab kita menggunakan isim dengan akhiran bertanwin.

Di dalam bahasa Inggris, kondisi ini dinamakan indefinite noun, sedangkan di dalam bahasa Arab dinamakan isim nakirah.

2. Untuk isim yang khusus/tertentu, jika dalam bahasa Inggris kita menggunakan article “the”, maka dalam bahasa Arab ita menggunakan isim yang berawalan اَلْ

Di dalam bahasa Inggris, kondisi ini dinamakan definite noun, sedangkan di dalam bahasa Arab dinamakan isim ma’rifah.

Dua jenis isim berdasarkan ta’yin

Dari keterangan di atas, sobat pasti sudah tahu bahwa berdasarkan ta’yin-nya isim dibagi menjadi dua yaitu isim nakirah dan isim ma’rifah.

Setelah mengetahui dua kondisi isim ini, maka kita harus memahami kaidah nahwu dari dua kondisi isim tersebut.

Kaidah nahwu untuk isim nakirah dan isim ma’rifah

1. awalan ال bersambung ke isim.

الْ بَيْتُ => salah

الْبَيْتُ => benar

2. Jika isim diberi awalan ال, maka akhirannya bukan lagi tanwin.

الْبَيْتٌ => salah

الْبَيْتُ => benar

3. hamza pada ال adalah hamzatul washl, jadi jika didahului oleh huruf lain, maka hamza tidak dibaca.

الْوَلَدُ وَالْبِنْتُ cara bacanya :

al-waladu wa-albintu => salah

al-waladu wal-bintu => benar

Kaidah dasar yang harus diketahui tentang isim ma’rifah dalam bentuk diagram

aturan dasar isim ma'rifah

 

Klik gambar untuk memperbesar dan memperjelas, agar sobat mudah membaca diagramnya.

Jenis kata yang tergolong dalam isim dalam bahasa Arab

Lihat poin pertama, pada sub bahasan muraja’ah pelajaran di atas, atau klik di link berikut untuk melihat tabel jenis kata apa saja yang digolongkan kepada isim.

Tentunya sobat sudah mengetahui bahwa adjective (kata sifat) termasuk ke dalam noun (kata benda) dalam bahasa Arab.

Oleh karena itu saya tidak berpanjang lebar membahas sub bahasan ini.

Sekarang kita lanjutkan saja ke pembahasan adanya agreement (kondisi/bentuk yang harus sama) antara noun dan adjective.

Agreement antara kata benda yang disifati (man’uut) dan kata sifat (na’tun)

Pengenalan istilah

Kata sifat bahasa arabnya = نَعْتٌ (na’t) atau صِفَةٌ (shifatun)

Kata benda yang disifati bahasa arabnya = مَنْعُوْتٌ (man’uut) atau مَوْصُوفٌ (maushuufun)

apa na'tun/shifah dan man'uut /maushuuf itu?

 

Kaidah nahwu antara نَعْتٌ (na’tun) dan مَنْعُوْتٌ (man’uutun)

1. Urutan katanya adalah:

man’ut, lalu diikuti oleh na’tun.

Seperti pada bahasa Indonesia, pertama kali yang diucapkan adalah bendanya kemudian diikuti oleh sifat benda tersebut.

Contoh:

– بَيْتٌ كَبِيْرٌ = baitun kabiirun, artinya rumah yang besar.

– الْبَيْتُ الصَّغِيْرُ = al-baitu ash-shaghiiru, artinya rumah yang besar itu.

2. Kondisi yang harus sama antara man’ut dan na’tun, yaitu:

a. Jika man’ut nakirah, maka na’tun nakirah.

Contoh:

– بَيْتٌ كَبِيْرٌ

Penjelasan:

– man’uut-nya adalah بَيْتٌ (baitun).

– na’tun-nya adalah كَبِيْرٌ (kabiirun).

– بَيْتٌ adalah isim nakirah, maka na’tun-nya juga harus nakirah, yaitu كَبِيْرٌ

b. Jika man’ut-nya ma’rifah, maka na’tun-nya ma’rifah

Contoh:

الْبَيْتُ الْكَبِيْرُ = al-baitu al-kabiiru (al-baitul kabiiru)

Penjelasan:

– man’uut-nya adalah الْبَيْتُ

– na’tun-nya adalah الْكَبِيْرُ

– الْبَيْتُ adalah isim ma’rifah, jadi na’tunnya harus ma’rifah, yaitu الْكَبِيْرُ

Sebenarnya ada lagi agreement antara man’ut dan na’tun, yaitu:

a. jika man’ut-nya mudzakkar, maka na’tun-nya juga mudzakkar. Sebaliknya jika man’utnya mu-annats maka na’tun-nya mu-annats.

b. man’ut dan na’tun juga harus berjumlah sama, yaitu sama-sama bentuk mufrad (tunggal), mutsanna (dual), jamak.

c. man’ut dan na’tun juga harus sama dalam hal i’rab (harakat akhirnya), yaitu sama-sama marfuu’, manshub, atau majrur.

Namun ketiga poin ini tidak dibahas lebih dalam pelajaran ini, karena materi hari ini fokus kepada pembagian isim berdasarkan ta’yinnya yaitu isim nakirah dan isim ma’rifah.

In syaa Allah ketiga poin di atas akan saya kupas pada catatan tulisan mendatang.

kaidah shifah dan maushuuf

Penjelasan Jumlah ismiyyah (nominal sentence)

Setelah sobat telah mengetahui isim ma’rifah beserta sifatnya, maka dengan dua hal tersebut sobat dapat membentuk sebuah kalimat sempurna yang mempunyai arti dan sesuai dengan kaidah bahasa Arab.

Pola Jumlah ismiyyah

mubtada’ ( مُبْتَدَأٌ ) + khabar ( خَبَرٌ )

Mubtada’ adalah subjek, sedangkan khabar adalah predikat.

Mubtada’ bisa berupa isim, dhamir (kata ganti), isim isyaarah (kata tunjuk).

Khabar bisa berupa shifah (kata sifat atau na’tun), isim, kata keterangan (zharf), atau frase preposisi (misalnya huruf jar + isim majrur, dll).

Mubtada’ dan khabar merupakan isim yang marfuu

Contoh jumlah ismiyyah (mubtada’ + khabar)

a. isim ma’rifah + isim nakirah

– الْقَلَمُ مَكْسُوْرٌ = al-qalamu maksuurun, artinya pena itu rusak/patah.

الْقَلَمُ adalah mubtada’ , merupakan isim ma’rifah.

مَكْسُوْرٌ adalah khabar, merupakan isim maf’ul dari كَسَرَ

b. isim ma’rifah + shifah

– الرَّجُلُ طَوِيْلٌ = ar-rajulu thawiilun, artinya pemuda itu tinggi.

الرَّجُلُ adalah isim ma’rifah, berfungsi sebagai mubtada’ (subject)

طَوِيْلٌ adalah shifah atau kata sifat (isim nakirah), berfungsi sebagai khabar (predikat).

 

c. isim ma’rifah + frase preposisi

– الْوَلَدُ فِيْ الْمَدْرَسِةِ = al-waladu fil madrasati, artinya anak itu di sekolah.

الْوَلَدُ adalah isim ma’rifah, sebagai mubtada atau subjek.

فِيْ الْمَدْرَسِةِ adalah frase (menyerupai jumlah yaitu jar dan majrur), sebagai khabar atau objek.

 

c. Isim dhamir + isim nakirah

– هِيَ مُدَرِّسَةٌ = hiya mudarrisatun, artinya dia adalah guru.

هِيَ adalah isim dhamir (digolongkan kepada isim ma’rifah), pada kalimat ini sebagai mubtada’.

مُدَرِّسَةٌ adalah isim nakirah, dalam kalimat ini sebagai khabar atau objek.

 

d. isim isyaarah + isim nakirah.

– هَذَا كِتَابٌ = haadzaa kitaabun, artinya ini adalah buku.

هَذَا adalah isim isyaarah, dalam kalimat ini sebagai mubtada’

كِتَابٌ adalah isim nakirah, dalam kalimat ini sebagai khabar.

 

Summary jumlah ismiyyah (nominal sentence)

1. Jumlah ismiyyah adalah jumlah yang diawali oleh isim.

2. Dua elemen yang membentuk jumlah ismiyyah adalah mubtada’ dan khabar.

3. Mubtada’ adalah subjek, sedangkan khabar adalah objek.

4. Mubtada dan khabar mempunyai agreement (harus sama kondisinya), seperti:

a. Dalam hal jumlah: harus sama-sama mufrad, dual, atau jamak.

b. Dalam hal gender: mubtada dan khabar harus sama-sama mudzakkar, atau mu-annats.

Untuk poin 4 ini, akan saya bahas lebih detail pada catatan mendatang, karena hari ini kita fokus mempelajari isim nakirah dan isim ma’rifah.

Penutup

Alhamdulillah, kita sudah mempelajari kaidah nahwu di bawah ini:

1. Definisi kalam atau jumlah mufidah

2. Ada tiga jenis kata pembentuk jumlah mufidah dalam bahasa Arab, yaitu isim, fi’il, dan harfun/huruf.

3. Ada dua jenis isim dilihat dari ta’yin-nya, yaitu isim nakirah dan isim ma’rifah.

4. Shifah atau na’tun digolongkan kepada isim.

5. Terdapat agreement antara na’tun dan man’ut (isim yang disifati), dalam hal:

a. nakirah atau ma’rifah

b. gender: mudzakkar atau mu-annats

c. jumlah: mufrad, dual, jamak.

d. case: raf’un, nashab, atau jarr

6. Dua elemen pembentuk jumlah ismiyyah, yaitu mubtada’ dan khabar

Demikianlah catatan belajar tentang karakteristik isim ( اِسْمٌ ) khususnya isim yang general (nakirah) dan isim yang tertentu atau khusus (ma’rifah).

Semoga bermanfaat bagi sobat pembaca.